Implementasi Pupuk Kompos sebagai Adaptasi Pertanian Organik di Desa Melung Kabupaten Banyumas
DOI:
https://doi.org/10.54082/jippm.190Kata Kunci:
Melung, Pemuda, Pertanian OrganicAbstrak
Limbah peternakan seperti kotoran kambing termasuk sumberdaya yang masih belum dimanfaatkan dengan baik. Limbah ini umumnya digunakan sebagai pupuk tanpa proses pengolahan atau bahkan dibuang begitu saja. Limbah peternakan apabila tidak dikelola dengan baik mampu berperan sebagai sumber pencemaran lingkungan. Berdasarkan uraian tersebut maka diperlukan konsep integrasi antara bidang peternakan dengan pertanian dalam rangka pelaksanaan zero waste farming system. Metode yang diterapkan dalam kegiatan PPK Ormawa ini adalah metode ceramah yang dipilih karena pertimbangan efisiensi waktu dan penyesuain terhadap pengetahuan audiens, dilanjutkan dengan metode diskusi, demonstrasi, dan pendampingan peserta utamanya pemuda Desa Melung. Dalam kegiatan PPK Ormawa ini para peserta dibekali pengetahuan mengenai pertanian organik kemudian dilatih membuat pupuk kompos kotoran kambing dan penerapan sistem pertanian organik. Transfer ilmu pengetahuan mengenai pertanian organik dilakukan dengan mengadakan kelas serta pada kelas tersebut dilaksanakan kegiatan pretest dan post-test. Hasil dari pretest setelah dilakukan tahap implementasi kegiatan dengan nilai rata-rata sebesar 46,25, sedangkan post-test dengan nilai rata-rata sebesar 90. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan para peserta mengenai pertanian organik menjadi lebih baik.
Referensi
Aliyah, I., Pujiasmanto, B., Yudana, G., & Sugiarti, R. 2020. Pengembangan Kawasan Pertanian: Pendekatan Spasial Pola Hulu Hilir Pertanian Padi. Yayasan Kita Menulis.
Farid, M. 2020. Pendampingan pengelolaan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik kepada peternak sapi di Desa Pandanarum Kecamatan Tempeh Lumajang. Khidmatun: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(1): 59-74.
Hapsari, A.Y. 2013. Kualitas dan kuantitas kandungan pupuk organik limbah serasah dengan inokulum kotoran sapi secara semianaerob. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Margolang, R.D., Jamilah, & Sembiring, M. 2015. Karakteristik beberapa sifat fisik, kimia, dan biologi tanah pada sistem pertanian organik. Jurnal Online Agroteknologi, 3(2): 717-723.
Mayrowani, H. 2012. Pengembangan pertanian organik di Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 30(2): 91-108.
Novitasari, D., Syarifah, R. N. K., Suroto, A., Mustafa, M. B., & Noorhidayah, R. (2021, April). Peningkatan Minat Generasi Muda Di Bidang Pertanian Melalui Kegiatan Pelatihan Pertanian Organik. In Prosiding Seminar Nasional LPPM Unsoed (Vol. 10, No. 1).
Septiadi, D. & Mundiyah, A.I. 2020. Strategi pengembangan usaha tani sayuran berbasis pertanian organik. Jurnal Agrifo, 5(1): 35-43.
Surya, R.E & Suryono. 2013. Pengaruh pengomposan terhadap rasio C/N kotoran ayam dan kadar hara NPK tersedia serta kapasitas tukar kation tanah. UNESA Journal of Chemistry, 2(1): 137-144.
Syarifuddin, Kandatong, H., & Fatman, M. 2020. Respon pemberian pupuk sekam bakar arang padi dan pupuk kandang kambing pada pertumbuhan produksi kacang tanah (Aracis hypogal L.). Journal Peqguruang, 2(1): 158-162.
Trivana, L., Pradhana, A.Y., & Manambangtua, A.P. 2017. Trivana L, Pradhana AY, Manambangtua AP. Optimalisasi waktu pengomposan pupuk kandang dari kotoran kambing dan debu sabut kelapa dengan bioaktivator EM4. Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan, 9(1) :16-24.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2023 Dwi Agustina, Ivonne Restu Tria, Risma Aulia Rahma, Selviana Selviana, Yusuf Arva Nuur Maulana

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.



